Maret 14, 2026

WAPRES KE-6 TRY SUTRISNO WAFAT

JAKARTA, — Wakil Presiden ke-6 RI, Jenderal TNI (Purn) Try Sutrisno, tutup usia. Try Sutrisno meninggal dunia di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto, Jakarta Pusat dalam usia 90 tahun.


Kabar meninggalnya Try Sutrisno dibenarkan oleh Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi. Wapres RI Ke-6 tersebut dikonfirmasi meninggal pada pukul 06.58 WIB, Senin (2/3/2026). Jenazah akan dibawa ke rumah di Jalan Purwakarta, Menteng, Jakarta Pusat.

“Kita berdukacita sangat mendalam. Saya sudah minta RSPAD garnisun Setneg untuk memberikan atensi terbaik,” kata Prasetyo saat dikonfirmasi, Senin (2/3/2026).

Riwayat Sakit Try Sutrisno


Pada tahun 2008, Try Sutrisno, menurut anggota Tim dokter kepresidenan Prof Dr Djoko Rahardjo, mengalami gangguan penyempitan pembuluh darah di otak (transient ischemic attack) dan terpaksa dilarikan ke ICU rumah sakit.

Kala itu, Try Sutrisno sempat dijenguk oleh Wapres Jusuf Kalla yang datang beberapa hari kemudian.

“Kami cerita-cerita, tertawa-tawa, beliau cerita kejadiannya bagaimana. Alhamdulillah beliau sehat-sehat saja. Dokter kita luar biasa demikian sigap, karena soal nyawa itu ada yang dinamakan golden period, itu bisa fatal kalau terlambat,” kata Wapres saat itu, dikutip dari laman Setneg, Senin (2/3/2026).

Di tahun 2022, Try juga sempat dirawat di RSPAD Gatot Soebroto. Namun, pihak rumah sakit kala itu tidak memberikan detail kondisi dari mantan Panglima ABRI tersebut.

“Beliau dirawat sudah beberapa hari. Tentang diagnosis saya tidak berhak menjawab, yang jelas saat ini kesehatan beliau sudah membaik,” kata Kepala RSPAD waktu itu, Letnan Jenderal TNI Albertus Budi Sulistya.

Apa Itu Transient Ischemic Attack (TIA)


Dikutip dari Mayo Clinic Transient Ischemic Attack (TIA) atau yang juga disebut ‘stroke ringan’ biasanya hanya berlangsung beberapa menit dan tidak menyebabkan kerusakan jangka panjang.

Namun, sekitar 1 dari 3 orang yang mengalami TIA pada akhirnya akan mengalami stroke, dengan sekitar setengahnya terjadi dalam waktu satu tahun setelah TIA.

Sering disebut sebagai stroke ringan, TIA dapat berfungsi sebagai peringatan akan terjadinya stroke di masa depan dan sekaligus sebagai kesempatan untuk mencegahnya.

Berikut beberapa gejala yang umum terjadi pada TIA:

  • Kelemahan, mati rasa, atau kelumpuhan pada wajah, lengan, atau kaki, biasanya pada satu sisi tubuh.
  • Bicara cadel atau kesulitan memahami orang lain.
  • Kebutaan pada satu atau kedua mata atau penglihatan ganda.
  • Pusing atau kehilangan keseimbangan atau koordinasi.

Profil Singkat

Try Sutrisno lahir di Surabaya, Jawa Timur, pada 15 November 1935. Pada usia 13 tahun, ia bergabung dengan Batalyon Poncowati dan bertugas sebagai kurir di markas tentara di Purwosari, Kediri. Tugasnya antara lain mencari informasi di wilayah pendudukan Belanda serta mengambil obat-obatan untuk Angkatan Darat.

Selanjutnya, ia melanjutkan pendidikan hingga lulus SMA pada 1956. Try kemudian menempuh pendidikan di Akademi Teknik Angkatan Darat (ATEKAD) Bandung dan lulus pada 1959. Karier militernya dimulai sebagai Letnan Dua Zeni pada 1959. Ia terlibat dalam sejumlah operasi militer penting, antara lain penumpasan PRRI, DI/TII di Aceh, Operasi Trikora pembebasan Irian Barat, penumpasan Gerakan 30 September 1965, hingga Operasi Seroja di Timor Timur. Kariernya terus menanjak. Ia pernah menjabat Pangdam IV/Sriwijaya dan Pangdam V/Jaya.

Pada 25 Juni 1986, Try diangkat menjadi Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) dan setahun kemudian memperoleh pangkat Jenderal. Puncak karier militernya diraih ketika ia ditunjuk sebagai Panglima ABRI pada 27 Februari 1988, menggantikan L. B. Moerdani. Ia menjabat posisi tersebut hingga 18 Februari 1993.

Dalam Sidang Umum MPR 1993, Try Sutrisno terpilih sebagai Wakil Presiden ke-6 RI mendampingi Presiden Soeharto untuk masa jabatan 1993–1998. Dirinya menjadi salah satu wakil presiden berlatar belakang militer dengan pengalaman panjang di pucuk pimpinan ABRI.

Menjelang akhir masa jabatannya, Try menyatakan tidak bersedia dicalonkan kembali sebagai wakil presiden. Ia menyebut keputusan tersebut sebagai upaya meneruskan tradisi para wakil presiden sebelumnya, mulai dari Hamengkubuwono IX hingga Sudharmono, yang menjabat satu periode. Dalam Sidang Umum MPR 1998, posisinya kemudian digantikan oleh B. J. Habibie sebagai Wakil Presiden.

Setelah tidak lagi menjabat sebagai wakil presiden, ia tetap aktif di berbagai organisasi, di antaranya sebagai Ketua Persatuan Purnawirawan ABRI (Pepabri) periode 1998–2003 dan Ketua Dewan Pembina Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI). Ia juga dipercaya sebagai Wakil Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) untuk periode 2022–2027.

Kepergian Try Sutrisno meninggalkan duka mendalam bagi segenap masyarakat Indonesia. proses pemakaman akan dilakukan dengan penghormatan militer sebagai bentuk penghargaan atas jasa dan pengabdiannya kepada negara.(Red)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *